Tragedi Buah Apel

Seorang guru wanita sedang mengajar murid-muridnya di hari pertama masuk sekolah. Diatas papan tulis ia mencoba menggambar buah apel, lalu sambil membalikkan badannya ia bertanya kepada para murid:

“Gambar apa ini ?”

Tak ayal para murid secara serentak berseru: “Pantat!”

Mendengar jawaban tersebut, guru tersebut menangis sambil setengah berlari mencari kepala sekolah untuk mengadukan perilaku murid-muridnya.

Melihat tangisan sang guru wanita tersebut, kepala sekolah tanpa menanyakan alasannya, langsung saja menerjang masuk ke ruang kelas, lalu dengan emosi ia memarahi semua murid:

“Kalian sungguh berani-beraninya mempermainkan seorang guru! Apa yang kalian lakukan terhadapnya ?!”

Sesaat ruang kelas menjadi senyap, semua murid jadi bengong, sang kepala sekolah kemudian menoleh ke arah papan tulis, ia semakin marah ketika melihat apa yang tergambar di papan tulis:

“Ini sudah keterlaluan, kalian bahkan berani menggambar pantat di papan tulis!” Mendengar ini sang guru wanita langsung pingsan.

Menggantikan posisi

Jack, asisten kepercayaan gubernur, telah meninggal dunia. Gubernur sangat sayang dan bergantung kepada jack, jack adalah tempat meminta nasihat untuk segala permasalahannya, mulai dari soal menghadapi para demonstran sampai ke soal memilih baju. dapat dikatakan bahwa jack adalah sahabat terdekat gubernur.

Karena itu, dapat dipahami mengapa gubernur tidak terlalu menanggapi ambisi dari para perkerja di kantornya yang ingin menggantikan posisi jack. “dasar tak tahu diri! mereka bahkan tidak punya kesabaran menunggu sampai jenazah jack dikuburkan!” gerutu gubernur.

Di pemakaman, salah seorang pekerja gubernur yang sangat rajin berjalan mendampinginya. “bapak gubernur,” kata pria itu membuka percakapan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada, “apakah ada kesempatan bagi saya untuk menggantikan posisi jack?” “tentu saja,” jawab gubernur, itu. “tapi kamu sebaiknya cepat2 pergi ke sana. aku lihat petugas pemakaman akan segera menurunkan petinya.”

Kisah si Alfred

Adalah seorang pekerja Inggris yang sedang bekerja di lantai 13 sebuah gedung. Tiba-tiba seorang berteriak-teriak, “Alfred.. Alfred… anak perempuanmu Rossie mati krn kecelakaan… Alfred…!”

Karena panik, orang ini langsung loncat lewat jendela … dari lantai 13.

Ketika dia hampir mendekati lantai 9, dia baru ingat bahwa dia tidak punya anak perempuan bernama Rossie, setelah dia hampir mendekati lantai 5, dia baru sadar bahwa dia belum menikah.. apalagi punya anak. Dan ketika dia hampir menyentuh tanah.. dia baru sadar bahwa namanya bukanlah Alfred..

Pengusaha yang Sakit

Seorang pengusaha merasa sangat sakit dan pergi ke dokter. Dan dokter pun memeriksanya dengan teliti. Tiba-tiba dokter itu terkejut dan mundur beberapa langkah dan berkata pada pengusaha tersebut.

” Anda mengalami infeksi virus rabies yang cukup ganas. Dan ini akan berakibat fatal pada anda…”

Pengusaha itu pun terkejut, dan setelah agak tenang dapat menguasai dirinya kembali, ia berkata pada dokter tersebut.

“Dok, …. dapatkah anda ambilkan selembar kertas dan pulpen …?”
“O… tentu. Apakah anda akan menulis surat wasiat buat keluarga anda ? ”
“Tidak …… Saya hanya ingin membuat daftar orang-orang yang ingin saya gigit….”

Obrolan santai

Seorang mahasiswa sedang asyik berbicara dengan seorang pengemis tua di depan kampus UI

Mahasiswa : “Sudah lama mengemis di sini pak?”
Pengemis : “Ya… lebih kurang sudah 8 tahun , nak..”
Mahasiswa : Wah, sudah lama juga ya pak.. sehari biasanya dapat berapa pak?”
Pengemis : “Paling sedikit rp 30.000 nak …”
Mahasiswa : Banyak juga ya pak”.
Pengemis : “yaa untuk makan keluarga di rumah nak…”
Mahasiswa : “Ehhhh…keluarga ada di mana?”
Pengemis : “Anak saya semuanya ada 3 orang, yang pertama ada di Universitas borobudur di kalimalang, yang kedua ada di Universitas UKI di cawang dan yang ketiga di Universitas Tri sakti digrogol…”
Mahasiswa : “Waaahhh, hebat-hebat keluarga bapak ya…salut saya sama bapak bisa melanjudkan sekolah anak sampai perguruan tinggi.. Eh..Anak bapak itu semuanya masih kuliah?”
Pengemis : “yaaa tidaklah nak….semuanya mengemis seperti saya…”